Optimalisasi Pembelajaran E-learning di Sekolah Dasar untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Teknologi yang berkembang semakin pesat akan mendekatkan informasi, ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia dalam genggaman tangan. Seberapa siapkah dunia pendidikan dan pembelajaran secara khusus untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi? Apa yang mendasari kesiapan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi untuk inovasi pembelajaran? Bagaimana pula mengoptimalkan pembelajaran e-learning sebagai desain kemajuan teknologi informasi di jenjang Sekolah Dasar ?
E-learning didefiniskan sebagi sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan dibidang pendidikan dalam bentuk dunia maya
atau proses belajar jarak jauh melaui web browser ataupun fasilitas
lainnya dengan menggunakan internet demikian menurut Kuswayanto
(2006:63). Definisi lain dari e-learning yang dikemukakan oleh the American Society for Training and Development
(ASTD) adalah pembelajaran yang menggunakan berbagai bentuk aplikasi
dan proses teknologi yang meliputi pembelajaran berbasis jaringan,
berbasis komputer, kelas maya, dan kolaborasi digital. Sebagai contoh
materi pelajaran yang dapat diperoleh melalui internet baik yang dikemas
secara terstruktur dapat diperoleh melalui “google search” ataupun melalui website khusus, misalnya www.edmodo.com , www.gnomio.com atau aplikasi yang sudah disiapkan oleh kemdikbud yang dapat diakses dilaman http://m-edukasia.kemdikbud.go.id/ medukasia/.
Siswa SD merupakan usia awal dalam perkenalan pemakaian
teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu perlu mempersiapkan
kemampuan dan keterampilan menggunakan teknologi. Penyusunan buku
panduan atau pelatihan tertentu untuk memanfaatkan teknologi menjadi
langkah awal pembelajaran ini. Tidak kalah pentingnya adalah memotivasi
siswa agar senang dan terbiasa menggunakan e-learning. Mengetahui gaya belajar siswa terhadap e-learning
juga harus mendapat perhatian khusus, sehingga tindakan yang tepat
dapat diberikan kepada siswa. Materi pelajaran yang akan disajikan lewat
e-learning manakah yang paling diminati siswa apakah slide,
teks, video, ataukah audio. Menurut Koesuma (2015:155) melalui dialog
pandangan terbuka siswa SD sudah dapat mengemukakan gagasan pemikiran
mereka sesuai pengalamanya. Model pembelajaran e-learning di SD harus
didukung dengan pengadaan fasilitas teknologi yang memadai dan lengkap,
demikian menurut Wahyono (2010:133). Kesiapan infrastruktur TIK, adanya
koneksi internet, learning management system untuk menampung materi pelajaran berbasis jaringan yang fleksibel. Pembuatan sistem yang dapat menghubungkan antar siswa dan stakeholder disekolah tersebut.
Namun dalam penerapannya . E-Learning menemui beberapa kendala . Kendala atau hambatan dalam penyelenggaraan e-learning, yaitu :
a. Investasi. Walaupun e-learning pada
akhirnya dapat menghemat biaya pendidikan, akan tetapi memerlukan
investasi yang sangat besar pada permulaannya.
b. Budaya. Pemanfaatan e-learning
membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau
mengikuti pembelajaran melalui komputer.
c. Teknologi dan infrastruktur. E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan handal, dan teknologi yang tepat.
d. Desain materi. Penyampaian materi
melalui e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner-centric. Saat
ini masih sangat sedikit instructional designer yang berpengalaman
dalam membuat suatu paket pelajaran e-learning yang memadai. (Effendi, 2005)
Sebagaimana asal kata dari e-learning yang terdiri dari e (elektronik) dan learning (belajar), maka system ini juga mempunyai kekurangan, antara lain :
1. Bagi orang yang gagap teknologi, system ini belum bisa diterapkan.
2. Keterbatasan jumlah computer yang dimiliki oleh sekolah juga menghambat pelaksanaan e-learning.
3. Kehadiran guru sebagai makhluk yang dapat berinteraksi secara langsung dengan para murid telah menghilang dari ruang-ruang elektronik e-learning ini.
4. Kemungkinan adanya kecurangan,
plagiasi, dan pelanggaran hak cipta.
5. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning juga harus membutuhkan jaringan internet untuk pembelajaran jarak jauh
5. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning juga harus membutuhkan jaringan internet untuk pembelajaran jarak jauh
Adanya penawaran pembelajaran e-learning
yang menarik di SD, tanpa adanya ketersediaan fasilitas pembelajaran
tidaklah mungkin dapat berlangsung proses pembelajaran ini. Hanya akan
menjadi isapan jempol belaka. Oleh karena itu ketersediaan internet,
laptop atau komputer menjadi syarat utama keberlangsungan proses
pembelajaran e-learning. Apabila disekolah atau dirumah belum
tersedia layanan internet maka tidak mungkin guru dapat memberikan
materi ataupun tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran e-learning. Hal
yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah merancang sistem dan
mengemasnya menjadi sebuah produk yang menarik bagi siswa SD. Disinilah
diperlukan peran kunci kolaborasi antar sesama guru dalam menentukan
bentuk materi pembelajaran, desainer dan programer website sehingga dapat digunakan siswa dan berfungsi memfasilitasi mereka dalam proses pembelajaran.
Kaidah
pengembangan materi harus diperhatikan agar sesuai dan dapat disajikan
bagi siswa SD. Mengingat pembelajaran elektronik atau e-learning, adalah
pembelajaran yang bersifat individual maka gaya belajarnya harus mampu
menyentuh pendekatan interpersonal, juga sangat memungkinkan untuk
menyajikan materi pembelajaran yang beragam dan menarik. Guru mana yang
lebih pintar dan lebih banyak pengetahuannya dibandingkan dengan
ketersediaan alam cyber sekarang ini, kata Harefa (2005:99).
Ketersediaan informasi yang ada didunia internet memang menjadi salah
satu motivasi tersendiri bagi guru untuk terus mengembangkan desain
pembelajaran e-learning. Guru menyadari pembelajaran yang tidak
mengikuti perkembangan teknologi akan menjadi sebuah pembelajaran yang
tradisional dan kuno. Akibatnya siswa akan kurang kreatif dan inovatif
dalam menghadapi tantangan kehidupan. Adanya kemudahan menggali dan
mendapatkan informasi dengan mudah menjadi salah satu motivasi guru
untuk terus mengembangkan desain pembelajaran e-learning.
Seperti yang diungkapkan oleh Wahyono (2010:134) bahwa pembelajarannya
lebih fleksibel dan cakupannya lebih luas.. Adanya generasi digital native yang sehri-harinya telah akrab dengan dunia digital juga menjadi alasan untuk terus dikembangkanya pembelajaran model ini.
Pengelolaan
konflik yang terjadi dan isu-isu yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran menunjukkan kesiapan pelaksana pembelajaran e-learning
di SD. Suatu hal yang baru pasti akan membawa ketidaknyamanan bagi
penggunanya. Pastinya tidak luput dari konflik dan isu, jika
pembelajaran e-learning ini nantinya diterapkan. Pelaksanaan
harus dapat mengantisipasi kemungkinan konflik yang muncul. Misalnya
kesiapan penyusunan materi yang akan menjadi konten pelajaran, adanya
rasa ketidakpuasan terhadap layanan yang diberikan, adanya persaingan
yang tidak sehat dan kendala-kendala teknis yang muncul dilapangan.
Kemampuan
untuk selalu mendisplinkan diri menjadi perhatian manajemen konflik
yang sering terjadi, karena terkadang kurang adanya kontrol secara
langsung dari guru menjadikan terlena oleh waktu dalam penyelesaian
tugas yang diberikan. Terkait dengan disiplin diri secara lebih
konprehensif dalam teori belajar dan pembelajaran menurut Bandura (1997)
bahwa peserta didik yang menerapkan strategi self regulated akan mampu belajar lebih efektif pada saat peserta didik untuk mendapatkan support dari siswa lainnya dalam komunitas belajarnya yang nantinya akan dapat meningkatkan rasa percaya dirinya.
Kemampuan
menggunakan infrastruktur teknologi menjadi hal penting dalam
pembelajaran, siswa harus dapat mengenal perangkat teknologi seperti
komputer, laptop, smartphone. Di Indonesia kemampuan masyarakat untuk
memanfaatkan teknologi masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan
tingkat pertumbuhan penduduknya. Di SD jumlah guru yang mampu
menggunakan komputer hanya segelintir saja dan kemampuan menggunakan
teknologi informasi sangatlah kecil, misalnya kemampuan menggunakan
surat elektronik. Kenyataan-kenyataan inilah yang akan menimbulkan
konflik jika diperlakukannya pembelajaran e-learning. Artinya dari guru sendiri harus dikondisikan secara khusus agar mampu mengenal dan menggunakan metode e-learning ini. Karena nanti akan menjadi ironis jika siswa mengalami kesulitan menggunakan e-learning tetapi gurunya sendiri belum paham betul apa itu e-learning.
Dalam pemanfaatan e-learning akan terstruktur lebih baik dengan penggunaan learning management system, tugas-tugas akan di share
oleh guru dan didiskusikan oleh siswa secara individu ataupun secara
kelompok. Siswa harus mampu mengemukakan pendapat kerjasama melalui e-mail, ruang chatting, ataupun audio/video conference. Penerapan tidak akan bisa secara utuh e-learning ini, jika tidak terjadi perubahan budaya dalam proses belajar mengajar. Jika masih fanatik sempit terhadap pola lama, atau kolot maka penerapan e-learning
ini akan kesulitan juga. Guru harus mampu mengerti bagimana menyatukan
tehnologi dengan keberadaan budaya sekolah setempat. Disamping hal
tersebut juga perlu komitmen sumber daya manusia dan pengadaan biaya
untuk pengembangan secara profesional dan kompetensi yang diharapkan.
Untuk itu perlu perencanaan yang matang, pelatihan sumber daya manusia,
sokongan dan dukungan dari pemangku jabatan, kepala sekolah dan
perangkat pendidikan setempat.
Strategi yang
diterapkan menetapkan proses pembelajaran ke siswa dengan orientasi
tujuan yang diarahkan. Dalam proses belajar mengajar siswa dapat mencari
bantuan atau bertanya kepada siswa lainnya melalui diskusi tatap muka
langsung, sehingga proses penggunaan e-learning dapat dipahami
oleh siswa. Disamping hal tersebut strategi penerapan di SD juga dalam
hal penyusunan materi pelajaran tidak hanya secara online tetapi perlu didukung dalam bentuk modular agar dapat memperlengkap dan sebagai kroscek materi yang diunggah. Bentuk penerapan ini menjadikan model baru yang akan diperkenalkan menjadi sebuah e-transformasi di dunia pendidiakan SD. Pola berpikir besar adalah bentuk setting mainside, yang
musti dikondisikan karena perubahan dari hal pembelajaran tradisional
ke arah pemebalajaran teknologi akan terasa tidak nyaman untuk pertama
kalinya. Pengejawantahan bahasa pengantar juga akan menjadi hal penting,
karena penggunaan bahasa lokal (go native) dalam e-learning tidak
ada, melainkan bahasa yang tersedia adalah bahasa Inggris. Oleh karena
itu perlu pengembangan lebih lanjut agar dapat diterepkan dengan efetif
untuk siswa SD. Minimal pelatihan pemahaman bahasa aplikasi yang
diterapkan sudah mulai akrab bagi siswa SD.

Komentar
Posting Komentar